Sering Kritik Menteri Kesehatan, Ahli Bedah Syaraf Dipecat Dari RS Kariadi Semarang

TALINUSA.COM – Karena sering mengkritik kebijakan Menteri Kesehatan, Prof Dr Zainal Muttaqin Ahli Bedah Syaraf diduga dipecat dari Rumah Sakit (RS) Kariadi, Semarang, Jawa Tengah.

Kabar pemecatan salah satu ahli syaraf ternama di Indonesia tersebut telah beredar di WhatsApp dan juga di media sosial Twitter.

Berdasarkan percakapan WhatsApp yang beredar, Zainal Muttaqin diduga menceritakan kabar pemecatan dirinya ini kepada sahabatnya di Kahmi.

“Ini (dipecat) memang gara-gara tulisan-tulisan saya saja,” ujar percakapan yang diduga ditulis oleh Zainal Muttaqin, Jumat (21/4/2023).

“Dirjen Yankes datang ke Semarang. Dia memaksa Dirut RS Kariadi untuk menyingkirkan saya atau dia yang akan dipecat. Sehingga saya terima surat pemberhentian karena saya juga menolak agar tulisan-tulisan saya di sensor oleh RS sebelum dipublikasikan,” lanjutnya.

Kemudian, Zainal Muttaqin menegaskan prinsipnya yang tidak akan gentar menyatakan sikapnya walaupun sudah ditekan oleh pihak tertentu.

“Buat saya ancaman Dirjen tidak ada apa-apanya,” beber Zainal.

Kecaman Zainal Muttaqin terhadap Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bukanlah hal yang asing didengar.

Pria lulusan Universitas Hiroshima ini pernah mengkritik ucapan Budi Gunadi Sadikin soal dugaan pemerasan yang terjadi di dunia kedokteran Indonesia.

“Menurut saya potongan ucapan Menkes itu menyesatkan, terutama bagi publik yang tidak paham,” tuturnya pada 22 Maret 2023 lalu.

Tidak hanya itu, Zainal Muttaqin menyarankan agar seluruh pihak yang saat ini sedang menduduki kursi penting di Kementerian Kesehatan agar segera dievaluasi.

“Ini agar pekerjaannya dalam lingkup profesionalitasnya sebagai Menteri bisa optimal dan kebijakannya bisa komprehensif,” ucapnya.

Selain Budi Gunadi Sadikin, ia juga sempat menuliskan pendapatnya tentang Vaksin Nusantara buatan mantan Menteri Kesehatan, Terawan.

“Dan beliau (Terawan) juga berhasil membuat isu bahwa BPOM seolah menghalangi riset Vaksin Nusantara dan menghalangi-halangi kemajuan pengembangan Vaksin Nusantara. Masyarakat luas juga harus tahu bahwa yang terjadi di RSPAD bukan program vaksinasi COVID-19, tetapi suatu tahap uji klinis fase II calon vaksin, dengan data hasil uji klinis fase I yang amburadul, dan dipenuhi dengan pelanggaran prosedur baku sains, serta manfaat yang diragukan sehingga tidak etis untuk dilanjutkan ke uji klinis fase II,” tulis Zainal Muttaqin melalui kumparan.com.

“Sebagian masyarakat justru terbeli dengan hiruk-pikuk jargon nasionalisme yang di gembar-gemborkan oleh Terawan dan kawan-kawan tanpa menyadari ada masalah besar mulai dari penamaan, kelaziman teknologi yang dipakai, masalah etik kedokteran, penggunaan anggaran, transparansi data yang semuanya di terabas seolah kubu yang ‘berlawanan’ (dalam hal ini BPOM, Satgas COVID-19, para ilmuwan dan masyarakat yang mengkritik) adalah kelompok orang-orang yang tidak cinta tanah air dan menghalangi kemajuan negara,” imbuhnya.

Sampai berita ini diturunkan, pihak Kementerian Kesehatan dan Zainal Muttaqin belum memberikan keterangan perihal pemberitaan ini.

(Red/*)

Komentar